Makna Kata Rasa
DALAM budaya Jawa pengertian kata rasa amat luas. Menurut Ki Hajar Dewantara, salah seorang tokoh pendidikan nasional dan perintis kemerdekaan RI, arti kata rasa dapat dipilah menjadi tiga: rasa pangrasa, rasa rumangsa, dan sejatining rasa. Rasa pangrasa adalah rasa yang ditangkap oleh panca indera atau jasmani kita, misalnya, rasa pedas, rasa gatal, rasa sakit, rasa enak, dsb. Rasa rumangsa adalah rasa eling, rasa cipta, rasa grahita, rasa damai, rasa bebas, dsb. Sesangkan sejatining rasa yaitu “hidup” itu sendiri. Memang penjelasan Ki Hajar tersebut agak sulit dicerna oleh masyarakat umum. Karena memang penjelasan tersebut masuk ke dunia religius-spiritual atau kebatinan-kerohanian. Atau termasuk ngelmu luhur!
Dalam kepustakaan Jawa banyak ajaran hidup yang berkaitan kata rasa. Misalnya, salah seorang tokoh budaya Jawa Ki Sastrapustaka menyatakan, dalam proses penciptaan – proses kreatifnya – seniman telah menggunakan rahsa, atau merasakan keindahan. Proses kreatif dalam proses penciptaan suatu karya seni sesuatu yang paling dalam, yakni suasana suwung, Lalu apa itu suwung? Secara umum artinya kosong. Tetapi budayawan Darmanto Jatman menerangkan lebih dalam, dan tetap samar-samar. Apalagi buat orang awam, malah membingungkan. Kata Darmanto, suwung itu kondisi … osik-ginugah, wisik-ngumandhang, cipta-winedhar, rasa-tumama, karsa-adreng … Namun dia menegaskan, wong Jawa iku nggone rasa. (Buku Psikologi Jawa, 1997).
Dia berpendapat, orang dianggap kasar jika tidak tahu rasa. Orang yang tidak halus perilakunya dianggap durung Jawa atau belum Jawa. Rasa itu sudah menyatu dengan Jawa. Setiap manusia telah diberi piranti rasa oleh Tuhan. Tergantung manusianya, bisa memanfaatkan rasa itu atau tidak. Itu sebabnya, sejak anak-anak, manusia perlu diasah rasanya. Agar menjadi manusia beradab dan halus, yang peka hati nuraninya, yang berperikemanusiaan dan yang berke-Tuhan-an.
Suwardi Endraswara berpendapat, wong Jawa nggone semu, papaning rasa, tansah sinamun ing samudana (Buku Budi Pekerti Dalam Budaya Jawa; 2003). Artinya kurang lebih segala perbuatan orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol, selalu menggunakan rasa, dan dibuat samar. Simbol-simbol tersebut menggambarkan sikap orang Jawa yang abstrak, pelik, dan wingit (misterius, angker).
Kata-kata begja, cilaka, seneng, sengit, bebas, adalah termasuk rasa. Perkumpulan Pangestu, salah satu aliran kebatinan (kepercayaan kepada Tuhan YME) mengenal istilah “memurnikan rasa di dalam rasa.” Sementara itu Sri Mankunegara IV dalam bukunya Wedhatama banyak membahas soal rasa. Dalam salah satu syair (tembang/sekar) di buku Wedhatama menyinggung tentang rasaning urip. Keberadaan Tuhan di jagad raya ini tidak hanya bisa diterangkan oleh pikir tetapi juga oleh rasa. Keberadaan Tuhan di alam raya, bisa ditangkap oleh rasa tetapi sulit dijelaskan. Bagaikan memisahkan rasa manis dan madu. Mana yang rasa manis dan mana yang madu.
Akhirnya dapat kita simpulkan, dalam kesusastraan Jawa klasik kata rasa dapat bermakna banyak dan sangat dalam. Misalnya rasa dapat berarti hati nurani. Dalam bahasa Sansekerta kata rasa juga memiliki banyak makna. Misalnya rasa bisa berarti air, sari buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, yang bisa “dirasakan” oleh lidah, rasa cinta, rasa marah, rasa kasihan, dsb. Rasa adalah sifat dasar manusia. Rasa bisa juga berarti inti, suara suci (suara Ilahi), bagi para pujangga, kata rasa bisa berarti kenikmatan yang terdalam (Buku Etika Jawa dalam Tantangan, 1983) ***
Sabtu, 07 Maret 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
